Official Blog dari MI Muhammadiyah 1 Slinga, Kec. Kaligondang Kab. Kaligondang

PPDB 2022/2023

PPDB
____________________________________
MI Muhammadiyah 1 Slinga membuka Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2022/2023 bagi peserta didik dari BA,RA dan TK se Indonesia.
Waktu pendaftaran 9 Mei - 16 Juli 2022. Tempat pendaftaran di MI Muhammadiyah 1 Slinga Jln. Raya Slinga, Desa Slinga RT 1 RW 3 Kec. Kaligondang Kab. Purbalingga.
Persyaratan pendaftaran:
1. Mengisi formulir (dapat diisi di tempat);
2. Fc. Akte Kelahiran 1 lembar;
3. Fc. Kartu Keluarga 1 lembar;
4. Fc. KTP kedua orang tua masing-masing 1 lembar;
5. Fc. Kartu KIS/KIP/KPS/KKS jika ada 1 lembar;
6. Fc. Ijazah BA/RA/TK jika ada 1 lembar.

Pendaftaran gratis. Brosur dapat diunduh dan atau informasi melalui contact person pada link berikut:
____________________________________
11 Mei 2022

Pengumuman Kelulusan Tahun 2019/2020

Pengumuman Kelulusan Kelas VI MI Muhammadiyah 1 Slinga 

Tahun Pelajaran 2019/2020






Bagi yang ingin mendownload pengumuman dalam bentuk file pdf, klik link berikut: Pengumuman (pdf)



LUPA PASSWORD? Ini solusinya

Beberapa minggu ini blog MIMSatu Slinga memang tidak update informasi, hal ini bukan dikarenakan admin dan kontributor kehabisan ide untuk menulis informasi. Melainkan karena satu hal sepele yakni LUPA PASSWORD. Hal sepele ini harusnya tidak terjadi bukan?ibarat seorang serdadu yang sedang berperang dengan membawa senapan tetapi dia justru lupa membawa magasin dan ternyata senapannya kosong.

Yang lebih lucu adalah admin justru tidak menanyakan kepada para kontributor yang jelas- jelas mungkin INGAT PASSWORDnya, salah satu keteledoran admin yang tidak perlu di contoh buat teman- teman admin :D . Nah akhirnya, untuk menyiasati dan menghindari kejadian serupa terulang dikemudian hari nanti. Admin mempersiapkan beberapa trik yang sebelumnya tidak admin lakukan.

  1. Gunakan fitur Remember Password pada aplikasi browsing yang anda gunakan.  Ini biasanya akan muncul saat anda Log In. Dengan catatan anda yakin bahwa komputer/ laptop yang anda gunakan itu hanya anda yang menggunakan ataupun jika ada orang lain ingin menggunakan harus dengan seizin anda.
    contoh pada google chrome
  2. Catat Password anda. Langkah ini adalah langkah yang sederhana untuk mengatasi LUPA PASSWORD. Catatlah password anda di kertas, handphone, komputer/ laptop.
Mungkin hanya itu trik sederhana yang dapat admin bagikan. Semoga kendala LUPA PASSWORD tidak mengganggu kegiatan tulis- menulis kita. 
Semngat berkarya!!

MIMSatu Slinga

Fenomena Guru Hits

Hits disini adalah dimana seseorang begitu eksisnya di media sosial baik foto pribadinya, foto saat liburan, foto saat bekerja atau saat momen yang dirasa harus dipublikasikan agar khalayak mengetahuinya. Ada yang karena begitu ingin meunjukkan eksistensinya, ia dengan sengaja melakukan publikasi fotonya yang terbaik tapi ada pula yang hanya sekedar iseng. Media sosial memang menjadi ajang unjuk eksistensi semua kalangan tak terkecuali guru. 

Sebagai profesi yang menuntut pelakunya melakukan kegiatan sehari- hari dengan sebaik- baiknya, tidak menutup kemungkinan seorang guru memiliki momen- momen yang berharga atau sengaja menciptakan momen itu. Banyak bertebaran di media sosial foto- foto guru yang tengah beraktifitas dalam kesehariannya bersama siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Ada juga guru muda yang 'pamer' wajah mulus dan body goals-nya. Disadari atau tidak, yang demikian ini menjadi konsumsi publik yang tentunya akan menimbulkan reaksi. 

Foto- foto bersama siswa mungkin bukanlah masalah bagi netizen, justru merupakan salah satu sarana yang baik untuk memopulerkan kegiatannya. Untuk membentuk opini publik yang baik tentu inilah yang diperlukan, foto- foto kegiatan yang real bukan foto- foto settingan (fiktif). Karena dengan media sosial siapapun dapat mengakses manfaatkan sebagai media humas untuk menyebarkan kebaikan dan program- program sekecil apapun program itu.

Foto- foto hits lainnya yang mengundang berbagai perdebatan adalah banyaknya guru muda yang suka selfie untuk menunjukkan paras ayu / tampan yang dimiliki. Ada yang mengatakan bahwa ini baik selama tidak menyalahi aturan yang berlaku, apalagi guru tentunya butuh hiburan 'ya salah satunya dengan selfie'. Sisi negatif dari hal ini adalah jika foto- foto yang beredar justru menimbulkan kemaksiatan. Kita tahu ada banyak kasus yang berawal dari media sosial.

Sebagai guru, alangkah baiknya jika kita bijak dalam menggunakan media sosial. Media sosial sangat penting jika kita memanfaatkannya sebagai alat pendidikan dan komunikasi dengan masyarakat (humas). (red.)

MI (Madrasah Industri)

Produktivitas adalah tujuan dari sebuah perusahaan industri yang bergerak menghasilkan barang dan atau jasa. Produktivitas dinilai dari kualitas dan kuantitas barang dan atau jasa yang dihasilkan setelah memperhitungkan waktu dan sumber daya yang dipakai. Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan apakah dapat disebut juga sebuah perusahaan? jika meninjau dari kalimat sebelumnya maka madrasah juga merupakan sebuah perusahaan, mengapa demikian? karena madrasah mengasilkan produk yaitu lulusan yang berguna bagi masyarakat. Bahkan madrasah juga merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa. Hal ini karena madrasah memberikan layanan prima kepada masyarakat melalui pendidikan. Bukan untuk mendapatkan keuntungan materi tetapi mendapat kebermanfaatan dari usahanya dan juga ke-Ridho-an Allah Swt.

Karena madrasah merupakan sebuah industri, maka kepuasan pelanggan adalah hal yang utama dan paling dikejar. Pelanggan disini tentu adalah masyarakat, masyarakat yang selalu ingin kembali (menyekolahkan putra-putrinya) di madrasah adalah salah satu indikator terpuaskannya mereka atas layanan yang diberikan madrasah. Bukan karena sekolah itu gratis, SPP murah tetapi karena program- program yang tercapai secara optimal, kinerja madrasah yang luar biasa, dan juga lulusan yang berhasil melakukan apa yang menjadi branding madrasah. Madrasah perlu menyesuaikan apa kebutuhan pelanggan agar nantinya lulusan dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Apalagi jika lulusan berhasil melampaui ekspektasi madrasah dan orang tua, tentunya semakin membuat orang tua sebagai pelanggan makin ketagihan menyekolahkan putra- putrinya di madrasah yang bersangkutan. Bayangkan jika keluarga A memiliki anak sulung B yang memiliki kemampuan dan keahlian di bidang seni Quran (contoh) setelah atau saat belajar di madrasah X. Dengan hasil ini, keluarga A menyekolahkan si bungsu C di madrasah X dengan hasil ia memiliki kemampuan di atas rata- rata di bidang akademik dan seni Quran dengan asumsi, si A dan si B memang memiliki kemampuan serta bakat minat yang berbeda. Ilustrasi ini memberikan sedikit gambaran dimana branding yang ditawarkan madrasah haruslah memenuhi ekspektasi masyarakat.

Untuk mencapai hal yang besar maka perlu step by step melalui proses yang tidak main- main. Madrasah ibtidaiyah memiliki 6 tingkatan kelas, maka step yang pertama dimulai dari kelas I. Di kelas awal inilah siswa mulai diperkenalkan dengan program besar yang kelak akan dicapainya di kelas V atau VI (paling lambat setelah ia lulus). Ambilah contoh program tahfidz, jika branding madrasah adalah setelah siswa lulus, mereka telah hafal Juz 30. Pecahlah program tersebut misalnya kelas I ia sudah hafal dan bisa menulis surat an Nas sampai al Ikhlas, dan seterusnya sampai di kelas VI ia mampu hafal dan menulis seluruh surat dalam Juz 30.

Sebagai industri bukan berarti madrasah harus memasang target terlalu tinggi, tetapi harus sesuai dengan kapasitas dan sumber daya madrasah itu sendiri. Mengingat tantangan dan persaingan dari sesama madrasah dan atau sekolah juga semakin ketat dalam 'berebut' siswa maka strategi branding menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan walaupun akan ada banyak perjuangan yang luar biasa. Jika madrasah berhasil dengan strategi yang demikian bukan tidak mungkin paradigma 'berebut' siswa akan terganti menjadi 'diperebutkan'.

Sekali lagi bahwa perjuangan, komitmen dan tanggung jawab serta dukungan dari seluruh pihak termasuk orang tua adalah faktor penting untuk dapat mencapai target madrasah. No Gain Without Pain!. (red.)

MIMSatu Slinga

Siswa, Apa? atau Siapa?

Siswa adalah komponen yang penting dalam dunia pendidikan. Seperti kita pahami bahwa siswa sebagai seorang anak adalah fitrah, bagai kertas putih yang bagaimana 'coretannya' nanti ditentukan oleh orang tuanya (dalam konteks pendidikan guru juga termasuk kedalam orang tua). Mereka adalah input yang harus diproses sedemikian rupa agar menjadi output yang baik sekaligus mendatangkan outcome yang bermanfaat bagi almamaternya. Sebagai sebuah input, siswa datang dari keluarga dan lingkungan yang berbeda. Mereka memiliki kemajemukan yang tinggi di berbagai bidang. Bukan hanya sekedar sikap mentalnya yang berbeda, cara belajarnya pun akan berbeda. Kemajemukan inilah yang nantinya di madrasah akan menjadi warna yang menghiasi setiap proses yang berlangsung. Siswa hanya dibekali sedikit pengetahuan tentang wawasan umum di madrasah, selebihnya kedua orang tua (dan atau wali) akan memasrahkan sepenuhnya kepada madrasah. Sebuah amanat yang berat yang sebenarnya sama beratnya seperti orang tua yang dititipi anak oleh Allah Swt. Entah bagaimana sebenarnya kebesaran hati dan kesabaran para orang tua dan guru ketika mendapatkan titipan yang juga merupakan anugerah yang sangat indah dari Allah Swt. 

Di madrasah, siswa bukan hanya diajari, dididik dan dilatih, tetapi mereka juga belajar dan menemukan pengetahuannya sendiri dengan bermacam cara mereka untuk menggali informasi, bereksplorasi dengan lingkungan madrasah. Sumber belajar yang diberikan guru hanya sebuah pengantar bagi mereka untuk mengembangkan diri. Akan tetapi, kembali kepada kemajemukan tadi bahwa siswa memiliki ke-khasannya sendiri, cepat dan sedangnya siswa mengolah informasi juga bergantung kepada bagaimana perlakuan yang dilakukan orang tua serta lingkungannya. Kita tahu bahwa siswa madrasah ibtidaiyah mudah sekali menduplikasi seseorang atau keadaan yang ia temukan dalam kehidupannya. Karena itu, peran orang tua di dalam keluarga dan lingkungan masyarakat menjadi vital bagi ke-khasan siswa apakah khas dengan perilaku baik, tanggap, rajin dan penuh perhatian atau perilaku yang menurut banyak orang disebut 'nakal', kurang tanggap, malas dan kurang fokus? Ya sekali lagi, informasi dan pengetahuan yang didapat siswa sebagai input sangat memengaruhi prosesnya di madrasah. 

Fokus
Output (hasil) sangat bergantung pada proses yang berlangsung. Sebuah proses yang baik akan menjadikan output yang baik. Proses yang kurang baik, akan membuahkan output yang kurang baik pula. Sebagai guru yang memiliki kemampuan untuk mengajar, mendidik dan melatih tentunya proses yang dilakukan akan baik. Dimanapun sebuah madrasah, proses dalam mengolah output tentunya akan memperhitungkan nilai- nilai agama Islam yang luhur sehingga prosesnya insya Allah baik. Ketika seorang guru sudah berusaha semaksimal mungkin dalam pembelajaran, ia hanya perlu memasrahkan jerih payahnya kepada Allah Swt. yang maha memberi ilmu. Allah yang akan menentukan pintar atau tidaknya seorang siswa. Akan tetapi perlu diingat bahwa  sebenarnya setiap siswa memiliki kecerdasannya sendiri (lihat  Multiple Intelligence, Howard Gardner). Kita tidak bisa memaksakan seorang siswa memiliki kemampuan yang sama dengan siswa lainnya karena bisa jadi siswa yang dipaksakan itu lebih ahli dibidang lain dibanding siswa yang menjadi copy project. Keberagaman hasil bagi sebuah lembaga pendidikan tentunya sebuah modal yang cukup besar dalam menggapai kemajuan

Bagaimanapun proses pembelajaran dan eksplorasi yang dilakukan guru bersama siswa semata- mata adalah bentuk tanggung jawab manusia yang harus memberikan kemanfaatan dan sedekah jariyah berupa ilmu yang bermanfaat. Bagi siswa ini adalah tahap dimana ia harus mulai fokus menuntut ilmu sebagai manifestasi keawajiban menuntut ilmu bagi seorang muslim. Orang tua sekali lagi memiliki peran yang lebih penting dari guru di madrasah, segala bentuk perhatian haruslah diberikan kepada siswa yang tengah menuntut ilmu, bukan semata- mata kelak ia akan menjadi orang yang sukses yang akan mengangkat derajat keluarga tetapi juga bagaimana ia akan menuntun orang tuanya menuju ke surga ilahi. Karena tujuan dari pendidikan Islam adalah menciptakan generasi yang beriman dan bertakwa, pastinya generasi ini adalah anak soleh- solehah yang mendoakan kedua orang tuanya, bukan?

Selain sebagai input dan output, siswa juga adalah outcome. Outcome disini diartikan sebagai seseorang yang memberikan kebermanfaatan dan nilai lebih dengan segala kemampuan yang ia dapatkan dari dan bagi madrasah (almamaternya). Dengan kata lain, alumni (output) hendaknya memberikan berbagai manfaat dengan keberagaman kemampuan yang dimilikinya. Kebermanfaatan yang dimaksud adalah bagaimana ia turut membantu madrasah dalam berbagai hal. Bukan hanya untuk mencetak nama baik madrasah saja. Disadari atau tidak, peran alumni diluar sana sangat diperlukan madrasah. Kerjasama dan kebermanfaatan dari alumni juga adalah kekuatan yang berharga bagi madrasah dalam mencapai visinya. 

Orang tua, guru dan siswa itu sendiri memiliki peran yang besar dalam pendidikan siswa. Orang tua tidak boleh memasrahkan begitu saja anaknya kepada madrasah tanpa ia sendiri memberikan perhatian kepada anaknya. Guru bukanlah sekedar profesi duniawi yang seperti mesin harus mengolah siswa dengan pengetahuan semata tetapi juga merupakan profesi ukhrowi yang selalu menghadirkan Allah Swt. disetiap kesempatan. Siswa madrasah ibtidaiyah bukanlah orang dewasa yang terkurung dalam tubuh kecil, karena itulah ia perlu diperlakukan secara khusus. Ia juga harus belajar menempatkan dirinya sebagai muslim- muslimat yang tengah menuntut ilmu, karenanya ketaatan kepada Allah swt. kepada kedua orang tua dan kepada guru adalah salah satu kunci keberhasilannya. Diajari, dan dilatih adalah haknya, Belajar,  dan Berlatih adalah kewajibannya.

MIMSatu Slinga

Pendidikan Olahraga Sebagai Pendidikan Karakter


ilustrasi pendidikan jasmani
Olahraga merupakan kegiatan menyenangkan bagi sebagian besar orang. Ada banyak tujuan seseorang melakukan olahraga antara lain karena ingin mendapatkan kebugaran jasmani, menenangkan pikiran, sekedar meluangkan waktu untuk hobi hingga program diet. Bagi seorang atlet olahraga yang ia tekuni bukan saja hanya sekedar hobi semata tetapi merupakan gaya hidup dan upaya untuk menggapai prestasi membanggakan negeri.  

Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila. Olahraga sendiri terbagi atas olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. (http://fik.unj.ac.id/?p=887)


Pada tingkatan madrasah ibtidaiyah, olahraga menjadi bagian mata pelajaran yang diajarkan dari kelas 1 sampai 6. Sebagai mata pelajaran yang mengeksplorasi sisi psikomotorik siswa, olahraga juga diharapkan menjadi stimulus bagi siswa untuk mengetahui sekaligus mengembangkan bakat minatnya. Tak hanya itu, prestasi seorang siswa madrasah ibtidaiyah di bidang olahraga juga tentunya turut mengangkat nama baik madrasah yang bersangkutan terlepas dari dimana atlet tersebut berlatih secara keras, namun ketika ia berlaga sebagai seorang siswa madrasah ibtidaiyah tentunya sudah barang tentu ia menjadi bagian penting dari madrasahnya.


Kita sudah mengetahui apa saja yang dapat dilakukan oleh pendidikan olahraga tanpa harus membuka banyak teori tentang olahraga itu sendiri. Sebagai seorang pendidik tentunya kita dapat menginterpretasikan apa itu olahraga sesuai dengan apa yang kita lihat. Pendidikan olahraga sendiri dapat membentuk sebuah karakter bagi siswa. Siswa yang gemar berolahraga tentunya memiliki karakter olahragawan yang memiliki daya juang dan spirit yang membara, bersikap sportif, terbuka atas segala kondisi dan tekanan. 

Pengertian karakter sendiri menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Sesorang yang berkarakter akan lebih menonjol di masyarakat dan lingkungannya. Ia dapat memiliki peran yang dominan dalam kehidupan di masyarakat. 

Melalui pendidikan olahraga, hendaknya guru dapat menanamkan karakter yang luhur dalam diri siswa mengingat kondisi siswa madrasah ibtidaiyah lebih mudah untuk 'digambar' dengan berbagai hal yang ia dapatkan melalui panca inderanya. Melalui pendidikan olahraga, karakter siswa dibentuk sedemikian rupa untuk memiliki sifat jujur, memiliki daya juang tinggi, sportif, penuh perhitungan dalam mengambil keputusan dan tentunya cerdas. Yang demikian tentunya bermuara kepada terciptanya Insan Kamil yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.

Madrasah Ibtidaiyah berperan penting dalam pembentukan karakter siswanya, sinergisme antara setiap mata pelajaran, warga madrasah dan orang tua (sebagai faktor utama pendidikan keluarga) menjadi modal berharga terbentuknya karakter yang akhlakul karimah. 

MIMSatu Slinga

Membangkitkan Gairah Menulis Anak

ilustrasi siswa membuat karya tulis
Menulis adalah sebuah kegiatan yang menjemukan bagi sebagian anak. Padahal menulis menjadi salah satu cara mengekspresikan diri dan menuangkan segala pikiran. Sebuah karya tulis tidak harus berupa karya resmi yang ilmiah dan formalistik. Apapun dapat menjadi sebuah karya tulis hanya saja kategorinya akan berbeda. Seniman tentunya akan membuat karya tulis yang bernilai seni tinggi walaupun akan terkesan membosankan bagi orang- orang yang tidak memiliki sense seni tulis. Dengan menulis, seseorang dapat mengingat momen yang ia lalui misalnya melalui diary, autobiografi dan otobiografi. Karya tulis yang diminati oleh para remaja biasanya berupa cerita pendek yang berbau petualangan atau romansa. Kisah dongeng fantasi nan imaginatif begitu digemari anak-anak. 

Untuk membangkitkan kegemeran menulis dikalangan siswa kita tidak dapat memaksakan mereka untuk secara produktif dapat menghasilkan karya tulis seperti yang kita inginkan. Terlalu ketat dalam kriteria karya tulis siswa justru dapat membuat siswa terbebani. Lebih baik biarkan mereka berkreasi sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka. dengan begitu, apapun dan bagaimanapun hasilnya akan ada rasa puas dan bangga dalam diri mereka. Berikut ini tips yang telah dirangkum oleh redaksi MIMSatu Slinga dalam rangka membangkitkan gairah menulis dikalangan siswa Madrasah Ibtidaiyah:

  1. sebagai awalan, biarkan mereka memilih tema yang mereka sukai.
  2. biarkan mereka menulis sebanyak apapun yang mereka ingin tulis.
  3. anda dapat memberikan potongan kata- kata pilihan anda kepada mereka untuk kemudian disusun sesuai dengan keinginan mereka.
  4. jika mereka kesulitan menentukan tema, anda dapat memberikan tema yang mudah dipahami misalnya tentang kegiatan sehari - hari, tema tentang Ibu/ ayah (keluarga), pemandangan alam dan lain-lain.
  5. biarkan mereka mencari tempat yang mereka anggap nyaman untuk mulai menulis.
  6. berikan arahan dan bantuan jika mereka mendapat kesulitan. Arahkan kepada bahasa- bahasa yang mereka pahami tetapi tetap dalam koridor bahasa yang santun.
  7. biarkan mereka menonjolkan sisi kekanak- kanakan mereka dalam karya tulisnya. Jangan memaksakan membuat karya yang tidak bercirikan anak-anak.
  8. ajaklah mereka menghias karya mereka dengan pernak- pernik atau gambar yang mereka gambar sendiri sesuai dengan tema mereka masing- masing.
  9. berilah batasan waktu kepada mereka dalam berkarya agar mereka terbiasa membuat karya dalam batasan waktu (deadline).
  10. berilah apresiasi setinggi- tingginya kepada hasil karya mereka. Apresiasi terbaik dapat membangkitkan rasa puas dan bangga kepada mereka dan membangkitkan gairah mereka untuk kembali menulis.
Demikianlah tips yang telah dirangkum oleh redaksi MIMSatu Slinga. Membangkitkan gairah menulis dikalangan siswa dapat menumbuhkan kreatifitas mereka dalam berkarya. Semoga sukses membangkitkan gairah menulis siswa- siswi anda.  

MIMSatu Slinga

Belajar Dalam Islam

Tulisan ini tidak membahas konsep atau teori tentang belajar secara umum. Bukan mengenai teori tahapan- tahapan pembelajaran, akan tetapi disajikan sebuah pandangan lain dari sebuah pembelajaran
Situasi Pembelajaran Akidah Akhlak
Belajar dapat dikatakan proses memperoleh informasi agar terdapat perubahan dalam diri (tidak tahu menjadi tahu) karena itu belajar menjadi kewajiban bagi manusia. Dalam Islam, belajar dapat diartikan sebagai menuntut ilmu, menuntut ilmu wajib bagi umat Islam bahkan dilakukan sampai meninggal dunia. Dengan belajar, umat Islam pernah mengalami masa kejayaan di era Abassiyah dan Umayah II (di Spanyol) banyak tulisan hasil karya ilmuwan- ilmuwan terkenal masa itu. Mulai dari ilmu agama, matematika, geografi sampai astronomi dan filsafat serta ilmu yang kita kenal pada masa ini telah dipelajari dan menjadi pengetahuan yang diketemukan oleh ilmuwan muslim. Bahkan digadang- gadang, Eropa (Barat) berhasil maju (bangkit, tercerahkan) ketika banyak mahasiswa Eropa yang belajar di tempat- tempat belajar (masjid, perpustakaan, halaqoh dll) umat Islam kembali ke Eropa lalu menerapkan apa yang telah mereka dapatkan.

Barat boleh jadi lebih maju ketika umat Islam justru mengalami kemunduran baik akibat penjajahan Barat, perang saudara akibat berebut kekuasaan, dan faktor lainnya. Bahkan banyak ilmuwan Barat yang kini teorinya dijadikan patokan bagi Ilmu Pengetahuan masa kini. Yang disayangkan adalah dengan merebaknya Ilmu Pengetahuan dikalangan Barat, Teknologi yang tercipta justru membuat seolah kisah tragis kematian Tuhan benar- benar terjadi. Tuhan telah selesai menjalankan tugasnya bagi umat manusia ketika manusia mengandalkan Teknologi. 

Sains Barat, memang memisahkan diri atau mungkin dipisahkan dari Agama. Tanpa berpedoman pada Al Quran - Sunnah Rasul Saw. Barat berhasil meniadakan agama sebagai ruh Ilmu pengetahuan mereka. Sebenarnya mungkin juga akibat euforia mereka (ilmuwan Barat) yang terbebas dari kungkungan Gereja di abad itu ketika doktrin gerejalah yang menjadi pengetahuan bagi umatnya. Tengoklah kisah Galileo Galilei dengan Heliosentrisnya yang membuat dirinya justru dihukum mati oleh gereja. Euforia inilah yang kemudian membuat Barat menjauhkan sainsnya dari agama.

Bagaimana dengan umat Islam yang justru melalui Agama (sumber Al Quran dan Sunnah) justru mengalami kemajuan pada masanya? Seperti kita ketahui dalam Al quran adalah sumber hukum dan pengetahuan bagi umat yang beriman. Berbagai teori dapat diketemukan didalamnya, dengan bantuan Hadis dan tafsir kita dapat mengetahui bahwa Allah Swt. memang telah memberikan mukjizat yang luar biasa kepada Rasulullah Muhammad Saw.. Rasa syukur tentunya harus kita panjatkan selalu ketika kita mendapatkan pengetahuan apapun. Rasa syukur adalah cara minimal yang dapat kita lakukan untuk membedakan  cara Barat dengan Islam. Jika kita memang ingin benar- benar menghadirkan Quran- Hadis dalam setiap pengetahuan yang kita dapatkan atau kita berikan kepada orang lain, setidaknya kita dapat mengaitkan pengetahuan itu dengan dalil yang ada di dalam al Quran atau sebaliknya dengan menukil sebuah ayat, lalu kita cari teori yang berkaitan.

Pada wahyu pertama quran surat al alaq ayat 1, dapat kita bedakan bagaimana seharusnya kita belajar. Terlepas dari berbagai tafsir yang ada tentang ayat tersebut, tetapi dapat diketahui jika kita penggal ayat tersebut. Kalimat pertama adalah " iqra' " yang berarti bacalah!. Barat hanya menggunakan penggalan ayat ini untuk belajar, ya mereka hanya membaca, mengkaji, melakukan penelitian saja.


Akan tetapi, Allah Swt. tidaklah menurukan sebuah ayat tanpa sebuah tujuan. Ambilah ayat pertama surat al Alaq tersebut secara lengkap " iqra' bissmirabbikal ladzii kholaq " yang berarti bacalah! dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu. Apakah itu berarti hanya dengan membaca basmallah saja? boleh saja, tetapi lebih dalam lagi kita perlu menelaah, mengkaji apa yang tengah kita pelajari dari perspektif al Quran. Kita dapat berangkat dari sebuah teori lalu kita cari ayat yang berkaitan, atau dengan mencari sebuah ayat lalu kita kaitkan dengan sebuah teori atau fenomena, baik alam maupun sosial

Apapun yang kita pelajari, ingatlah bahwa setiap segalanya adalah berasal dari Allah Swt. Dia-lah sang maha agung sang maha pencipta. Tulisan ini hanya untuk mengingatkan kepada pembaca agar senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. dan meniatkan diri beribadah kepada-Nya dalam setiap pembelajaran. Seperti yang telah ditulis di atas bahwa belajar bertujuan untuk merubah tingkah laku si pebelajar dari tidak tahu menjadi tahu setelah tahu maka kita dapat menerapkan pengetahuan yang kita dapatkan.

 Berbagilah ilmu pengetahuan yang telah dimiliki walaupun sedikit.

MIMSatu Slinga

Blog MIMSatu Slinga Meledak!!

Jangan dulu terkejut dengan judul di atas, karena judul memang harus mengundang ketertarikan pembaca. Pada postingan kali ini, akan dibagikan cara agar blog anda cepat dikenal di kalangan netizen dan cepat di index oleh mesin pencari. Sebagai contoh blog mimsatuslinga.blogspot.co.id ini. Cara yang dibagikan dalam postingan agar blog anda cepat dikenal ini adalah cara yang sederhana. Ya, untuk menjadikan blog MIMSatu Slinga meledak ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:
  1. bagikan laman blog MIMSatu Slinga ke media sosial seperti facebook, twitter, google plus dan lain- lain. Caranya dengan klik tombol media sosial yang ada di bawah postingan MIMSatu Slinga.
    tombol share di mimsatuslinga.blogspot.co.id
  2. bagikan link postingan dan link mimsatuslinga.blogspot.co.id ke media sosial yang anda miliki. Caranya dengan memblok url yang ada di halaman browser anda lalu klik kanan, pilih salin atau copy, lalu paste di media sosial yang anda miliki.
  3. bagikan link postingan dan link mimsatuslinga.blogspot.co.id ke grup media sosial di smartphone anda. Caranya anda dapat membuka blog mimsatuslinga.blogspot.co.id lalu lakukan copy seperti pada langkah kedua. Setelah itu paste link tersebut di grup whatsapp, bbm, dan lainnya.
  4. jadikan laman mimsatuslinga.blogspot.co.id sebagai homepage pada browser (mozilla firefox, googlechrome, internet explorer dan lainnya) anda. Caranya dengan pilih File pada menu bar => pilih Options/ Pilihan => ketik mimsatuslinga.blogspot.id (seperti pada gambar) lalu restart browser anda.
    homepage mimsatuslinga.blogspot.co.id
  5. ceritakan atau katakan pada teman/ saudara anda untuk membuka blog mimsatuslinga.blogspot.co.id  di smarphone, komputer atau laptop mereka.
Demikian agar blog kebanggaan warga MIMSatu Slinga dapat meledak, terkenal dan memiliki rating yang tinggi. Semakin tersebar blog MIMSatu Slinga, semakin tersebar pula nama MI Muhammadiyah 1 Slinga.  

MIMSatu Slinga

Tujuan Pendidikan


Setiap madrasah yang berdiri bukanlah tanpa tujuan, ada misi yang ia bawa dan harus dituntaskan melalui proses pengelolaan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan di Indonesia sendiri diatur dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (lihat UU Sisdiknas no 20 tahun 2003). Tujuan pendidikan menjadi hal yang perlu dirumuskan oleh sebuah lembaga pendidikan. Ada empat tujuan pendidikan yang menurut penulis perlu ada dalam sebuah lembaga pendidikan.
Berikut ini adalah tujuan dari lembaga pendidikan.

1.   Knowledge, which enables us to understand; Tentunya sebuah lembaga pendidikan yang utama adalah mengembangkan ilmu pengetahuan, dan pengetahuan itu sendiri agar siswa menjadi tahu, mengerti, memahami dan lalu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari tentang apa yang telah ia pelajari. Boleh jadi, produk dari sebuah pendidikan bukanlah siswa, tetapi pendidikan dari siswa itu sendirilah produk pendidikan.
2.    Know – how, which enables us to do; Seperti halnya pada tujuan pertama, pendidikan hendaknya memberikan cara untuk mengetahui. Bukan hanya sekedar memberikan ‘barang jadi’ saja. Anggap saja banyak orang yang ingin mendapatkan rezeki dari Allah swt. tetapi jarang yang ingin menguasai bagaimana mendapatkan rezeki.
3.    Wisdom, which enables us to set priorities; Kebijaksanaan menjadi layak dimiliki bagi setiap pelaku pendidikan baik pemangku kepentingan, kepala madrasah, guru dan siswa. Kebijaksanaan menjadi tahap yang tinggi dalam membentuk pribadi yang unggul.
4.    Character, which enables us to co- operate, to presevere and to become respected & trusted; Selain membentuk karakter siswa, madrasah sebagai lembaga pendidikan juga harus memiliki karakter, keunikan yang dapat menarik respek dan kepercayaan dari masyarakat.

Apapun tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh madrasah pastinya adalah demi kemajuan dunia pendidikan itu sendiri. Sinergitas segala sumber daya yang terlibat akan memperlancar sebuah madrasah mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan melalui visi dan misi mereka.

MIMSatu Slinga

KEDUDUKAN DAN TUGAS GURU DALAM PENDIDIKAN


 A.  Pembahasan
1.      Hakikat Guru
Ada pepatah yang mengatakan,”Guru digugu dan ditiru.” Artinya, seorang guru dipercaya dan menjadi teladan atau contoh bagi muridnya. Apapun yang dibicarakan dan dilakukan oleh seorang guru apalagi memang diperintahkan, kemungkinan besar akan diikuti oleh muridnya.Bahkan muridnya bisa mengembangkan lebih jauh daripada gurunya. Sehingga, tidak heran jika ada pepatah lain yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”[1]
Dalam pengertian yang formal, guru merupakan tenaga professional dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Dalam Undang-Undang RI  Nomor : 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 39 ayat (2) dikemukakan bahwa guru adalah “Tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat”.[2]
Guru adalah orang yang berwenang dan bertanggungjawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.
Kepribadian adalah keseluruhan individu yang yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan suatu gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar.
Guru adalah orang yang bertanggungjawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan ada pada diri setiap anak didik. Guru didedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak didik agar di masa mendatang menjadi orang yang beguna bagi nusa dan bangsa.
Menurut Ahmad Tafsir, pendidik dalam Islam adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik. Mereka harus dapat mengupayakan seluruh potensi peserta didik, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Potensi-potensi ini dikembangkan sedenmikian rupa dikembangkan secara seimbang sampai mencapai tingkat yang optimal berdasarkan ajran Islam.[3]
Dalam kontek pendidikan Islam pendidik atau guru disebut dengan Murobbi, Mu’allim Dan Muaddib. Kata atau istilah “Murobbi”,misalnya, sering dijumpai dalam kalimat yang orientasinya lebih mengarah pada pemeliharaan, baik yang bersifat jasmani atau rohani. Pemeliharaan seperti ini terlihat dalam proses orang tua dalam membesarkan anaknya. Mereka tentunya berusaha memberikan pelanyanan secara penuh agar anaknya tumbuh dengan fisik yang sehat dan berkepribadian serta akhlak yang terpuji.
KEDUDUKAN DAN TUGAS GURU  DALAM PENDIDIKAN
   2.      Kedudukan Guru
Kita menemukan banyak kebaikan pada seorang guru. Mengajar untuk masa depan. Dialah yang mengarahkan masa depan anak didiknya. Sehingga Islam mengangkat kedudukan guru sangat tinggi. Al-Ghazali menjelaskan kedudukan sangat tinggi yang diduduki oleh orang berpengetahuan dengan ucapannya bahwa orang alim yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua kerajaan langit. Dia seperti matahari yang menerangi alam. Ia mempunyai cahaya dalam dirinya. Seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia memang wangi.
Sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan; pengetahuan itu didapat dari belajar dan mengajar. Yang belajar adalah calon guru dan yang mengajar adalah guru. Maka tidak boleh tidak, Islam pasti memuliakan guru. Tak terbayangkan terjadinya perkembangan pengetahuan tanpa adanya orang belajar dan mengajar dan tak terbayangkan pula adanya belajar dan mengajar tanpa adanya guru.
           Tingginya kedudukan guru dalam Islam masih dapat disaksikan secara nyata pada zaman sekarang. Dapat kita lihat terutama di pesantren-pesantren di Indonesia. Santri bahkan tidak berani menantang sinar mata kyainya. Sebagian lagi membungkukkan badan tatkala menghadap rumah kyainya. Bahkan, konon ada santri yang tidak berani kencing menghadap rumah kyai sekalipun berada dalam kamar yang tertutup. Betapa tidak, silau oleh tingkah laku kyai yang begitu mulia, sinar matanya yang ‘menembus’, ilmunya yang luas dan dalam, do’anya yang diyakini mujarab. Keyakinan santri yang berujung kepada kemuliaan dirinya.
Bukan hanya pada pesantren saja, tetapi sejak dulu hingga sekarang guru dalam masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan masih memegang peran yang amat penting sekalipun status sosial guru di tengah masayarakat telah berubah. Guru dengan segala keterbatasannnya terutama dari segi status ekonomi tetap dianggap sebagai pelopor di tengah masyarakatnya.

KEDUDUKAN DAN TUGAS GURU  DALAM PENDIDIKAN
3.      Tugas Guru dalam Pendidikan
Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya untuk menerima dan memikul sebagian tanggung-jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Mereka itu, saat menyerahkan anaknya ke sekolah sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggungjawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukkan bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah karena tidak sembarangan orang dapat menjabat guru. [4]
Kewajiban guru adalah melayani pendidikan khususnya di sekolah, melalui kegiatan mengajar, mendidik dan melatih untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan generasi bangsa kita agar mampu hidup dengan dunia yang sedang menunggui mereka. Agar tujuan itu tercapai, maka disyaratkan :
1.)      Jumlah guru memadai dengan jumlah sekolah yang harus dilayani
2.)      jenis guru yang disediakan sesuai dengan jenis kompetensi guru yang dibutuhkan dan proporsional dengan jumlah jenis kompetensi guru.
Paling sedikit ada enam tugas guru dan tanggungjawab guru dalam
mengembangkan profesinya, yakni :
1.      Guru bertugas sebagai pengajar
2.      Guru bertugas sebagai pembimbing
3.      Guru bertugas sebagai administrator kelas
4.      Guru bertugas sebagai pengembang kurikulum
5.      Guru bertugas untuk mengembangkan profesi
6.      Guru bertugas untuk membina hubungan dengan masyarakat[5]
Ini merupakan enam tugas pokok profesi guru. Guru sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, di samping menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan.
Berikut beberapa tanggungjawab  guru menurut Nurfuadi :
1.      Guru harus menuntut murid-murid belajar.
2.      Turut serta membina kurikulum sekolah
3.      Melakukan pembinaan terhadap siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah)
4.       Memberikan bimbingan terhadap murid
5.      Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.
6.      Menyelenggarakan penelitian
7.      Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
8.      Menghayati, mengamalkan, dan mengamankan Pancasila.
9.      Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia.
10.  Turut mensukseskan pembangunan
11.  Tanggungjawab meningkatkan peranan profesiona guru.
Untuk mencapai agar cita-cita ideal tersebut dan agar pengajarannya berhasil , ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru, yaitu :
1.      Mempelajari setiap murid di kelasnya
2.      Merencanakan, menyediakan , dan menilai bahan-bahan belajar yang akan dan atau telah diberikan
3.      Memilih dan menggunakan metide mengajar yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, kebutuhan dan kemampuan murid dengan bahan-bahan yang akan diberikan
4.      Memelihara hubungan pribadi seerat mungkin dengan siswa
5.      Menyediakan lingkungan belajar yang serasi
6.      Mmebantu murid-murid dalam memecahkan masalah
7.      Mengatur dan menilai kemajuan belajar siswa
8.      Membuat catatan-catatan yang berguna dan meyusun laporan pendidikan
9.      Mengadakan hubungan dengan orang tua murid secara kontinu dan penuh saling pengertian
10.  Berusaha sedapat-dapatnya mencari data melalui serangkaian penelitian terhadap masalah-masalah pendidikan
11.  Mengadakan hubungan dengan masyarakat secara aktif dan kreatif guna kepentingan para siswa.
B.     Kesimpulan
Sosok guru sangat berpengaruh dalam masyarakat. Guru selalu pada tempat paling tinggi. Mendapatkan amanah dari dari bangsa dan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membawa kearah yang lebih baik dan mulia.
Guru sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Tanggungjawab mengembangkan profesi pada dasarnya ialah tuntutan dan panggilan selalu mencintai, menghargai, menjaga, dan meningkatkan tugas dan tanggungjawab profesinya. Tanggungjawab dalam membina hubungan dengan masyarakat yang harus menempatkan sekolah sebagai integral dari masyarakat serta sekolah sebagai pembaharu masyarakat.
KEDUDUKAN DAN TUGAS GURU  DALAM PENDIDIKAN
DAFTAR PUSTAKA
Arif Rahman, Masykur. (2012). Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru dalam Kegiatan Belajar-Mengajar. Jogjakarta: Diva Press.
Moh. Roqib, Nurfuadi. (2011). Kepribadian Guru. Purwokerto: Stainpress.
Suyanto dan Asep Jihad. (2013). Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Erlangga.
Syaefudin Saud, Udin. (2011). Pengembangan Profesi Guru. Alfabeta: Jakarta.




[1] Masykur Arif Rahman, Kesalahan-Kesalahan Fatal Paling Sering Dilakukan Guru dalam Kegiatan Belajar-Mengajar, (Jogjakarta: Diva Press,2012), hlm.8
[2] Suyanto dan Asep Jihad, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta:Erlangga, 2013), hlm. 3
[4] Moh. Roqib, Nurfuadi, Kepribadian Guru, (Purwokerto : Stainpress, 2011) hlm. 56-57
[5] Udin Syaefudin Saud, Pengembangan Profesi Guru, (Alfabeta:Jakarta, 2011), hlm. 32.

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAIKEM)

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF, KREATIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAIKEM)
A.    Pendahuluan
Dewasa ini, para penggiat pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dan model-model pembelajaran yang baik dan efektif untuk dapat  membantu guru dalam menyampaikan materi kepada siswa. Pengembangan ini telah dilakukan sejak dulu hingga sekarang secara kontinyu dan terus menerus, mengikuti perkembangan teknologi dan juga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap baik dan  layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran salah satunya adalah PAIKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Di era kontemporer ini, PAIKEM sangat dianjurkan mengingat semakin kompleksnya permasalahan di dunia pendidikan dan juga besarnya tuntutan yang dibebankan kepada guru dalam mensukseskan pembelajaran di tingkat sekolah ataupun  para dosen di tingkat perguruan tinggi.
Pelatihan-pelatihan tentang PAIKEM pun juga telah banyak diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas guru/dosen. PAIKEM kini telah menjadi salah satu bagian dari usaha sebuah unit pendidikan dalam meningkatakan kualitas pembelajarannya. Selain itu, yang paling mendasar tujuan  penerapan PAIKEM adalah agar siswa-siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, lebih enjoy dalam belajar, tentu saja menjadi lebih mudah dalam menyerap materi pembelajaran yang diberikan, dan yang tidak kalah penting adalah tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Namun pada kenyataanya, belum semua guru maupun para penggiat pendidikan dapat memahami dengan sebenarnya pendekatan PAIKEM ini. Oleh sebab itu, dalam makalah ini kami berusaha dan mencoba membantu memberikan pemahaman tentang PAIKEM yang lebih komprehensif dan mudah untuk dipelajari.
B.     Konsep PAIKEM
Pendekatan PAIKEM adalah sebuah strategi dan terobosan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mengerjakan kegiatan yang beragam dalam rangka mengembangkan ketrampilan dan pemahamannya, dengan penekanan peserta didik belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar (termasuk pemanfaatan lingkungan), supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.[1]
Pendekatan PAIKEM sebagai sebuah strategi pembelajaran, memiliki 5 (lima) kriteria yang dapat dipaparkan sebagai berikut:
1.      Pembelajaran Aktif
Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri.[2]
Pembelajaran Aktif adalah bahwa dalam pembelajaran peserta didik aktif secara fisik dan mental dalam hal mengemukakan penalaran (alasan), menemukan kaitan yang satu dengan yang lain, mengkomunikasikan ide/gagasan, mengemukakan bentuk representasi yang tepat, dan menggunakan semua itu untuk memecahkan masalah.[3]
Hal yang paling utama yang menjadi keaktifan siswa di dalam kelas adalah munculnya rasa ingin tahu, ketertarikan dan minat siswa terhadap hal yang sedang dipelajari. Untuk itu, melalui berbagi teknik dan metode, guru harus berusaha sebisa mungkin untuk menciptakan suasana sedemikian rupa guna memicu rasa kepenasaran siswa aktif bertanya, mempertanyakan mengemukakan gagasan.
Peran aktif siswa dalam pembelajaran sangatlah penting. Karena pada hakikatnya, pembelajaran merupakan suatu proses aktif dari pembelajar (siswa) dalam membangun pemikiran dan pengetahuannya. Peran aktif siswa dalam pembelajaran ini akan menjadi dasar pembentukan generasi kreatif, yang berkemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain.
2.      Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif dapat dilakukan dengan cara mengadaptasi model-model pembelajaran menyenangkan yang bisa membuat siswa terbebas dari kejenuhan-kejenuhan pembelajaran. Melalui model pembelajaran inovatif, peserta didik harus terbebas dari perasaan bosan, malas, ketakutan akan kegagalan atau perasaan tertekan dikarenakan tenggang waktu tugas dll.
Banyak sekali inovasi-inovasi dalam pembelajaran yang dapat diterapkan. Misalnya saat ini tengah ramai pembelajaran dengan computer atau lebih dikenal dengan Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK) bermodel Drill, tutorial atau simulasi. Materi pelajaran yang tadinya disampaikan secara lisan oleh guru, dapat dibaca sendiri oleh siswa melalui layar komputer maupun ketika diproyeksikan secara visual di depan kelas. [4]
3.      Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif menekankan pada pengembangan kreatifitas, baik pengembangan kemampuan imajinasi dan daya cipta (mengarang, membuat kerajinan tangan, mempraktekkan kesenian dll) maupun pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran di SD/MI pada umumnya masih mengupayakan pengembangan kemampuan berpikir rasional logis. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator dituntut untuk senantiasa kreatif dalam merancang pembelajaran, serta memiliki beragam strategi pembelajaran yang digunakan agar pembelajaran tersebut memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa di kelas. Pengetahuan siswa yang diperoleh dalam hal ini berdasarkan pengalamannya sendiri, bukan ditransfer pengetahuan dari guru.[5]
4.      Pembelajaran Efektif
Efektif artinya adalah berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan. Dengan kata lain, dalam pembelajaran telah terpenuhi apa yang menjadi tujuan dan harapan yang hendak dicapai.[6]
Aspek efektifitas pembelajaran merupakan kriteria penting dalam setiap pembelajaran. Suatu pembelajaran disebut efektif manakala pembelajaran tersebut telah mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran itu mencakup pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan, pengembangan kepribadian, serta kemampuan penguasaan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni).
Dalam konteks pembelajaran di SD/MI, suatu pembelajaran dapat dinilai efektif bila pembelajaran itu telah mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan dalam kurikulum, yang pada dasarnya tujuan khusus tersebut telah mengacu kepada Tujuan Umum Pendidikan Nasional yang tertulis dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pasal 3:
”Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.”
5.      Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan merupakan pembelajaran yang didesain sedemikian rupa sehingga memberikan susana penuh keceriaan, menyenangkan, dan yang paling utama, tidak membosankan peserta didik. Suasana seperti itu akan membuat peserta didik bisa lebih terfokus dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan perhatian terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Salah satu upaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan menggunakan permainan edukatif (belajar sambil bermain). Melalui keterlibatan dalam permainan, mereka dapat mengembangkan dirinya serta mulai memahami status dan perannya dalam kelompok teman sebayanya, yang akan sanngat bermanfaat untuk memahami dan menunaikan status dan perannya dalam masyarakat kelak setelah beranjak dewasa. Terdapat satu prinsip utama dalam pemilihan permainan edukatif ini dalam pembelajaran, yakni harus terdapat keselarasan dan keseimbangan antara aspek menyenangkan dengan aspek pencapaian tujuan pembelajaran.
Pembelajaran menyenangkan juga dapat dilakukan secara terpadu. Misalnya guru mengkombinasikan antara mata pelajaran pendidikan jasmani dan matematika, sehingga peserta didik dapat memperoleh lebih dari satu pengetahuan secara sekaligus.[7]
C.    Prinsip-prinsip PAIKEM dalam Pembelajaran
Berikut ini dikemukakan prinsip-prinsip pembelajaran PAIKEM, yaitu:
1.      Mengalami
Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional. Melalui pengalaman langsung pembelajaran akan lebih memberi makna kepada siswa daripada hanya mendengarkan. Misalnya pada mata pelajaran pendidikan jasmani dan olahraga, supaya siswa dapat mengetahui tentang bagaimana melakukan serve dalam permainan bola voli, maka guru memberikan kesempatan kepada siswanya untuk melakukan serve bola.
2.      Komunikasi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik. Proses komunikasi yang baik adalah proses komunikasi dimana antara unsur komunikator dan komunikan terdapat satu arah yang sama.
3.      Interaksi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya interaksi multi arah. Interaksi multi arah yang diharapkan terjadi adalah interaksi transaksional, dimana proses komunikasi antara guru dengan siswa, siswa antara guru, siswa dengan siswa, bahkan siswa dengan lingkungan sekitar memiliki kesiapan yang cukup baik.
4.      Refleksi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan. Proses refleksi sangat perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian proses pembelajaran. Kegiatan refleksi ini dilakukan secara bersama antara guru dengan siswa.[8]
D.    Implementasi Strategi Pembelajaran PAIKEM
1.      Landasan Teoritis Strategi Pembelajaran PAIKEM
Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan.
Berdasarkan teori belajar, melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya. Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dapat dengan mudah dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret.[9]
Manfaat keberhasilan pembelajaran akan terasa manakala apa yang diperoleh dari pembelajaran dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan. Inilah salah satu sisi positif yang melatarbelakangi pembelajaran dengan pendekatan lingkungan.
Empat pilar pendidikan, yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat diwujudkan melalui proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang dikemas efektif untuk pencapaian kompetensi yang diharapkan. Untuk itu, menjadi tugas guru untuk merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan kompetensi siswa secara optimal.
2.      Skenario Pembelajaran PAIKEM
Secara garis besar, penerapan strategi pembelajaran PAIKEM dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
a.       Guru berusaha untuk membangkitkan semangat dengan menggunakan berbagai alat bantu. Misalnya, menggunakan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat diolah sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suasana pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan sesuai dengan kompetensi siswa yang ingin dicapai;
b.      Guru mengatur kelas sedemikian rupa agar lebih kondusif untuk situasi pembelajaran dan membuat siswa merasa betah di kelasnya. Misalnya, dengan memajang buku-buku dan bahan belajar menarik. Juga menyediakan  pojok baca. Guru juga bisa memajang hasil-hasil karya anak didiknya di seluruh penjuru kelas. Sehingga siswa dapat merasa bangga, karyanya bisa diapresiasi oleh teman-temannya;
c.       Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif. Contohnya melalui belajar kelompok atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya;
d.      Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, mengemukakan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menata lingkungan belajarnya.
3.      Teknik Pelaksanaan Strategi PAIKEM
Berikut ini adalah contoh beberapa kegiatan yan dapat dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan strategi PAIKEM:
Kemampuan Guru
Pembelajaran
Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam.
Sesuai mata pelajarannya, guru dapat menggunakan beragam alat bantu belajar/media pembelajaran, misalnya:
·  Gambar;
·  Lingkungan;
·  Alat peraga dll.
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan.
·  Guru mengajak diskusi;
·  Guru melontarkan pertanyaan –pertanyaan yang memancing jawaban siswa;
·  Guru memberikan kepercayaan kepada siswa untuk memaparkan gagasannya kepada teman- teman kelasnya dll.
Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa.
·  Guru mengelompokkan siswa sesuai dengan kriteria tertentu, kemudian memberikan bahan pelajaran yang sesuai dengan anggota-anggota kelompok tersebut;
·  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki nilai/kemampuannya melalui tugas tambahan/pengayaan.
Guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari.
·  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan pengalamannya sehari-hari;
·  Guru memberikan contoh aplikasi nyata dalam kehidupan sehari- hari dari materi pelajaran yang sedang diterangkan.
Guru menilai pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.
·  Guru memantau dan megevaluasi kinerja siswa;
·  Guru memberikan bimbingan, nasihat, motivasi dan saran- saran kepada siswa untuk dapat meningkatkan prestasinya.
E.     Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Strategi PAIKEM
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru agar strategi PAIKEM dapat dilaksanakan dengan baik. Hal-hal tersebut adalah :
1.      Memahami sifat yang dimiliki anak
Ada dua sifat yang mendasar yang pasti dimiliki oleh setiap anak dimanapun, yaitu kesukaan berimajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Guru bisa menggunakan berbagai cara yang (tentunya) dapat membuat siswa senang/merasa dihargai, seperti memuji hasil karyanya, mengajukan pertanyaaan yang menantang, atau mendorong siswa untuk melakukan percobaan.
2.      Mengenal anak secara perorangan
Setiap siswa pasti memiliki karakteristik yang berbeda. Ada siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap materi pelajaran, ada juga siswa yang agak lambat dalam menyerap materi pelajaran. Dengan mengenal kekurangan dan kelebihan dari tiap siswa didiknya, guru bisa merumuskan perlakuan khusus yang harus diberikan kepada setiap siswa. Misalnya, siswa yang memiliki kemampuan lebih bisa diarahkan untuk membantu temannya yang memiliki kemampuan kurang dalam belajarnya.
3.      Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisaian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran.
4.      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Untuk memancing siswa agar mengeluarkan daya nalarnya, guru bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban terbuka, semisal “Apa yang terjadi bila tanaman tidak mendapat sinar  matahari ?” atau “Apa yang terjadi di saat gerhana matahari ?”. Pertanyaan-pertanyaan terbuka semacam itu akan memicu siswa untuk berpikir kritis dan kreatif demi menemukan pemecahan masalah.
5.      Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruangan kelas sebagai lingkungan utama tempat berlangsungnya pembelajaran, merupakan salah satu aspek yang harus mendapat perhatian lebih dalam strategi PAIKEM. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memajang karya-karya siswa. Selain hasil-hasil karya siswa, dinding kelas juga bisa ditempeli oleh beragam media pembelajaran, seperti poster, diagram, peta, alat peraga dll. Benda-benda tersebut sekaligus dapat dijadikan rujukan saat kegiatan pembelajaran.
6.      Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Salah satu sumber belajar yang sangat kaya bagi kegiatan pembelajaran peserta didik adalah lingkungan. Contohnya, siswa diajak mengamati pertumbuhan tanaman di taman atau kebun sekolah. Namun, demi efektifitas waktu dan biaya, tidak selamanya siswa diajak ke lingkungan untuk belajar. Guru bisa mengambil salah satu bagian dari lingkungan belajar ke dalam kelas, contohnya membawa contoh tanaman ke dalam ruang kelas atau membawa foto/gambar dari lingkungan belajar ke dalam kelas.
7.      Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Catatan dan komentar yang berkaitan dengan pekerjaan siswa jauh lebih bermakna daripada sekedar angka-angka.
8.      Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah cirri yang sebenarnya dari PAIKEM. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengemukakan merupakan tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Peran guru dalam hal ini guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datan dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan aspek Menyenangkan dari strategi PAIKEM.[10]
F.     Kesimpulan
Dari uraian materi di atas dapat kami simpulkan bahwa strategi pembelajaran PAIKEM terbentuk atas unsur berikut.
1.      Pembelajaran Aktif
2.      Pembelajaran Inovatif
3.      Pembelajaran Kreatif
4.      Pembelajaran Efektif
5.      Pembelajaran Menyenangkan
Ada beberapa prinsip yang harus ditaati dalam melaksanakan strategi pembelajaran PAIKEM, yaitu antara lain:
·  Prinsip Mengalami
·  Prinsip Komunikasi
·  Prinsip Interaksi
·  Prinsip Refleksi
Dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran PAIKEM, terdapat landasan teoritis yang mendasarinya. Secara garis besar, pembelajaran PAIKEM dapat dilaksanakan dengan scenario sebagai berikut.
a.    Guru berusaha untuk membangkitkan semangat dengan menggunakan berbagai alat bantu.
b.    Guru mengatur kelas sedemikian rupa agar lebih kondusif untuk situasi pembelajaran dan membuat siswa merasa betah di kelasnya.
c.    Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif.
d.   Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, mengemukakan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menata lingkungan belajarnya.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran PAIKEM antara lain sebagai berikut.
1.      Memahami sifat yang dimiliki anak
2.      Mengenal anak secara perorangan
3.      Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
4.      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
5.      Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
6.      Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
7.      Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
8.      Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Laksmi dan Masitoh. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam
Zaini, Hisyam, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani. 2002. Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff Development)
Trianto. 2011. Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik ( Bagi Anak Usia Dini, TK /RA & Anak Usia Kelas Awal SD / MI ). Jakarta: Prenada Media Group
Mulyatininsih, Endang. 2010. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Arkarna, Azizah. 2011. Pengertian dan Strategi PAIKEM (file pdf) (http://azkiyatunnufus.blogspot.com/2011/12/strategipembelajaran-paikem.html)

[1] Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009), hlm. 259
[2] Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Center for Teaching Staff Development, 2002), hlm. xiii
[3] Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik ( Bagi Anak Usia Dini, TK /RA & Anak Usia Kelas Awal SD / MI ), ( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 164
[4] Masitoh dan Laksmi Dewi, Op.Cit,  hlm. 260-262
[5] Endang Mulyatininsih, Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, (Depok: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2010), hlm. 4
[6] Trianto, Op.Cit, hlm. 165
[7] Azizah Arkarna, 2011, Pengertian dan Strategi PAIKEM pdf, (http://azkiyatunnufus.blogspot.com/2011/12/ strategi-pembelajaran-paikem.html), diakses pada tanggal 22 November 2013 pukul 15.38 WIB
[8] Masitoh dan Laksmi Dewi, Op.Cit,  hlm. 265-266
[9] Media Edukasi, 2011, (http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/konsep-pembelajaran-paikem.html) diakses pada 22 November 2013 pukul 15.44 WIB
[10] Masitoh dan Laksmi Dewi, Op.Cit,  hlm. 270-275
Back To Top