Official Blog dari MI Muhammadiyah 1 Slinga, Kec. Kaligondang Kab. Kaligondang

Fenomena Guru Hits

Hits disini adalah dimana seseorang begitu eksisnya di media sosial baik foto pribadinya, foto saat liburan, foto saat bekerja atau saat momen yang dirasa harus dipublikasikan agar khalayak mengetahuinya. Ada yang karena begitu ingin meunjukkan eksistensinya, ia dengan sengaja melakukan publikasi fotonya yang terbaik tapi ada pula yang hanya sekedar iseng. Media sosial memang menjadi ajang unjuk eksistensi semua kalangan tak terkecuali guru. 

Sebagai profesi yang menuntut pelakunya melakukan kegiatan sehari- hari dengan sebaik- baiknya, tidak menutup kemungkinan seorang guru memiliki momen- momen yang berharga atau sengaja menciptakan momen itu. Banyak bertebaran di media sosial foto- foto guru yang tengah beraktifitas dalam kesehariannya bersama siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Ada juga guru muda yang 'pamer' wajah mulus dan body goals-nya. Disadari atau tidak, yang demikian ini menjadi konsumsi publik yang tentunya akan menimbulkan reaksi. 

Foto- foto bersama siswa mungkin bukanlah masalah bagi netizen, justru merupakan salah satu sarana yang baik untuk memopulerkan kegiatannya. Untuk membentuk opini publik yang baik tentu inilah yang diperlukan, foto- foto kegiatan yang real bukan foto- foto settingan (fiktif). Karena dengan media sosial siapapun dapat mengakses manfaatkan sebagai media humas untuk menyebarkan kebaikan dan program- program sekecil apapun program itu.

Foto- foto hits lainnya yang mengundang berbagai perdebatan adalah banyaknya guru muda yang suka selfie untuk menunjukkan paras ayu / tampan yang dimiliki. Ada yang mengatakan bahwa ini baik selama tidak menyalahi aturan yang berlaku, apalagi guru tentunya butuh hiburan 'ya salah satunya dengan selfie'. Sisi negatif dari hal ini adalah jika foto- foto yang beredar justru menimbulkan kemaksiatan. Kita tahu ada banyak kasus yang berawal dari media sosial.

Sebagai guru, alangkah baiknya jika kita bijak dalam menggunakan media sosial. Media sosial sangat penting jika kita memanfaatkannya sebagai alat pendidikan dan komunikasi dengan masyarakat (humas). (red.)

MI (Madrasah Industri)

Produktivitas adalah tujuan dari sebuah perusahaan industri yang bergerak menghasilkan barang dan atau jasa. Produktivitas dinilai dari kualitas dan kuantitas barang dan atau jasa yang dihasilkan setelah memperhitungkan waktu dan sumber daya yang dipakai. Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan apakah dapat disebut juga sebuah perusahaan? jika meninjau dari kalimat sebelumnya maka madrasah juga merupakan sebuah perusahaan, mengapa demikian? karena madrasah mengasilkan produk yaitu lulusan yang berguna bagi masyarakat. Bahkan madrasah juga merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa. Hal ini karena madrasah memberikan layanan prima kepada masyarakat melalui pendidikan. Bukan untuk mendapatkan keuntungan materi tetapi mendapat kebermanfaatan dari usahanya dan juga ke-Ridho-an Allah Swt.

Karena madrasah merupakan sebuah industri, maka kepuasan pelanggan adalah hal yang utama dan paling dikejar. Pelanggan disini tentu adalah masyarakat, masyarakat yang selalu ingin kembali (menyekolahkan putra-putrinya) di madrasah adalah salah satu indikator terpuaskannya mereka atas layanan yang diberikan madrasah. Bukan karena sekolah itu gratis, SPP murah tetapi karena program- program yang tercapai secara optimal, kinerja madrasah yang luar biasa, dan juga lulusan yang berhasil melakukan apa yang menjadi branding madrasah. Madrasah perlu menyesuaikan apa kebutuhan pelanggan agar nantinya lulusan dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Apalagi jika lulusan berhasil melampaui ekspektasi madrasah dan orang tua, tentunya semakin membuat orang tua sebagai pelanggan makin ketagihan menyekolahkan putra- putrinya di madrasah yang bersangkutan. Bayangkan jika keluarga A memiliki anak sulung B yang memiliki kemampuan dan keahlian di bidang seni Quran (contoh) setelah atau saat belajar di madrasah X. Dengan hasil ini, keluarga A menyekolahkan si bungsu C di madrasah X dengan hasil ia memiliki kemampuan di atas rata- rata di bidang akademik dan seni Quran dengan asumsi, si A dan si B memang memiliki kemampuan serta bakat minat yang berbeda. Ilustrasi ini memberikan sedikit gambaran dimana branding yang ditawarkan madrasah haruslah memenuhi ekspektasi masyarakat.

Untuk mencapai hal yang besar maka perlu step by step melalui proses yang tidak main- main. Madrasah ibtidaiyah memiliki 6 tingkatan kelas, maka step yang pertama dimulai dari kelas I. Di kelas awal inilah siswa mulai diperkenalkan dengan program besar yang kelak akan dicapainya di kelas V atau VI (paling lambat setelah ia lulus). Ambilah contoh program tahfidz, jika branding madrasah adalah setelah siswa lulus, mereka telah hafal Juz 30. Pecahlah program tersebut misalnya kelas I ia sudah hafal dan bisa menulis surat an Nas sampai al Ikhlas, dan seterusnya sampai di kelas VI ia mampu hafal dan menulis seluruh surat dalam Juz 30.

Sebagai industri bukan berarti madrasah harus memasang target terlalu tinggi, tetapi harus sesuai dengan kapasitas dan sumber daya madrasah itu sendiri. Mengingat tantangan dan persaingan dari sesama madrasah dan atau sekolah juga semakin ketat dalam 'berebut' siswa maka strategi branding menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan walaupun akan ada banyak perjuangan yang luar biasa. Jika madrasah berhasil dengan strategi yang demikian bukan tidak mungkin paradigma 'berebut' siswa akan terganti menjadi 'diperebutkan'.

Sekali lagi bahwa perjuangan, komitmen dan tanggung jawab serta dukungan dari seluruh pihak termasuk orang tua adalah faktor penting untuk dapat mencapai target madrasah. No Gain Without Pain!. (red.)

MIMSatu Slinga

Siswa, Apa? atau Siapa?

Siswa adalah komponen yang penting dalam dunia pendidikan. Seperti kita pahami bahwa siswa sebagai seorang anak adalah fitrah, bagai kertas putih yang bagaimana 'coretannya' nanti ditentukan oleh orang tuanya (dalam konteks pendidikan guru juga termasuk kedalam orang tua). Mereka adalah input yang harus diproses sedemikian rupa agar menjadi output yang baik sekaligus mendatangkan outcome yang bermanfaat bagi almamaternya. Sebagai sebuah input, siswa datang dari keluarga dan lingkungan yang berbeda. Mereka memiliki kemajemukan yang tinggi di berbagai bidang. Bukan hanya sekedar sikap mentalnya yang berbeda, cara belajarnya pun akan berbeda. Kemajemukan inilah yang nantinya di madrasah akan menjadi warna yang menghiasi setiap proses yang berlangsung. Siswa hanya dibekali sedikit pengetahuan tentang wawasan umum di madrasah, selebihnya kedua orang tua (dan atau wali) akan memasrahkan sepenuhnya kepada madrasah. Sebuah amanat yang berat yang sebenarnya sama beratnya seperti orang tua yang dititipi anak oleh Allah Swt. Entah bagaimana sebenarnya kebesaran hati dan kesabaran para orang tua dan guru ketika mendapatkan titipan yang juga merupakan anugerah yang sangat indah dari Allah Swt. 

Di madrasah, siswa bukan hanya diajari, dididik dan dilatih, tetapi mereka juga belajar dan menemukan pengetahuannya sendiri dengan bermacam cara mereka untuk menggali informasi, bereksplorasi dengan lingkungan madrasah. Sumber belajar yang diberikan guru hanya sebuah pengantar bagi mereka untuk mengembangkan diri. Akan tetapi, kembali kepada kemajemukan tadi bahwa siswa memiliki ke-khasannya sendiri, cepat dan sedangnya siswa mengolah informasi juga bergantung kepada bagaimana perlakuan yang dilakukan orang tua serta lingkungannya. Kita tahu bahwa siswa madrasah ibtidaiyah mudah sekali menduplikasi seseorang atau keadaan yang ia temukan dalam kehidupannya. Karena itu, peran orang tua di dalam keluarga dan lingkungan masyarakat menjadi vital bagi ke-khasan siswa apakah khas dengan perilaku baik, tanggap, rajin dan penuh perhatian atau perilaku yang menurut banyak orang disebut 'nakal', kurang tanggap, malas dan kurang fokus? Ya sekali lagi, informasi dan pengetahuan yang didapat siswa sebagai input sangat memengaruhi prosesnya di madrasah. 

Fokus
Output (hasil) sangat bergantung pada proses yang berlangsung. Sebuah proses yang baik akan menjadikan output yang baik. Proses yang kurang baik, akan membuahkan output yang kurang baik pula. Sebagai guru yang memiliki kemampuan untuk mengajar, mendidik dan melatih tentunya proses yang dilakukan akan baik. Dimanapun sebuah madrasah, proses dalam mengolah output tentunya akan memperhitungkan nilai- nilai agama Islam yang luhur sehingga prosesnya insya Allah baik. Ketika seorang guru sudah berusaha semaksimal mungkin dalam pembelajaran, ia hanya perlu memasrahkan jerih payahnya kepada Allah Swt. yang maha memberi ilmu. Allah yang akan menentukan pintar atau tidaknya seorang siswa. Akan tetapi perlu diingat bahwa  sebenarnya setiap siswa memiliki kecerdasannya sendiri (lihat  Multiple Intelligence, Howard Gardner). Kita tidak bisa memaksakan seorang siswa memiliki kemampuan yang sama dengan siswa lainnya karena bisa jadi siswa yang dipaksakan itu lebih ahli dibidang lain dibanding siswa yang menjadi copy project. Keberagaman hasil bagi sebuah lembaga pendidikan tentunya sebuah modal yang cukup besar dalam menggapai kemajuan

Bagaimanapun proses pembelajaran dan eksplorasi yang dilakukan guru bersama siswa semata- mata adalah bentuk tanggung jawab manusia yang harus memberikan kemanfaatan dan sedekah jariyah berupa ilmu yang bermanfaat. Bagi siswa ini adalah tahap dimana ia harus mulai fokus menuntut ilmu sebagai manifestasi keawajiban menuntut ilmu bagi seorang muslim. Orang tua sekali lagi memiliki peran yang lebih penting dari guru di madrasah, segala bentuk perhatian haruslah diberikan kepada siswa yang tengah menuntut ilmu, bukan semata- mata kelak ia akan menjadi orang yang sukses yang akan mengangkat derajat keluarga tetapi juga bagaimana ia akan menuntun orang tuanya menuju ke surga ilahi. Karena tujuan dari pendidikan Islam adalah menciptakan generasi yang beriman dan bertakwa, pastinya generasi ini adalah anak soleh- solehah yang mendoakan kedua orang tuanya, bukan?

Selain sebagai input dan output, siswa juga adalah outcome. Outcome disini diartikan sebagai seseorang yang memberikan kebermanfaatan dan nilai lebih dengan segala kemampuan yang ia dapatkan dari dan bagi madrasah (almamaternya). Dengan kata lain, alumni (output) hendaknya memberikan berbagai manfaat dengan keberagaman kemampuan yang dimilikinya. Kebermanfaatan yang dimaksud adalah bagaimana ia turut membantu madrasah dalam berbagai hal. Bukan hanya untuk mencetak nama baik madrasah saja. Disadari atau tidak, peran alumni diluar sana sangat diperlukan madrasah. Kerjasama dan kebermanfaatan dari alumni juga adalah kekuatan yang berharga bagi madrasah dalam mencapai visinya. 

Orang tua, guru dan siswa itu sendiri memiliki peran yang besar dalam pendidikan siswa. Orang tua tidak boleh memasrahkan begitu saja anaknya kepada madrasah tanpa ia sendiri memberikan perhatian kepada anaknya. Guru bukanlah sekedar profesi duniawi yang seperti mesin harus mengolah siswa dengan pengetahuan semata tetapi juga merupakan profesi ukhrowi yang selalu menghadirkan Allah Swt. disetiap kesempatan. Siswa madrasah ibtidaiyah bukanlah orang dewasa yang terkurung dalam tubuh kecil, karena itulah ia perlu diperlakukan secara khusus. Ia juga harus belajar menempatkan dirinya sebagai muslim- muslimat yang tengah menuntut ilmu, karenanya ketaatan kepada Allah swt. kepada kedua orang tua dan kepada guru adalah salah satu kunci keberhasilannya. Diajari, dan dilatih adalah haknya, Belajar,  dan Berlatih adalah kewajibannya.

MIMSatu Slinga

Pendidikan Olahraga Sebagai Pendidikan Karakter


ilustrasi pendidikan jasmani
Olahraga merupakan kegiatan menyenangkan bagi sebagian besar orang. Ada banyak tujuan seseorang melakukan olahraga antara lain karena ingin mendapatkan kebugaran jasmani, menenangkan pikiran, sekedar meluangkan waktu untuk hobi hingga program diet. Bagi seorang atlet olahraga yang ia tekuni bukan saja hanya sekedar hobi semata tetapi merupakan gaya hidup dan upaya untuk menggapai prestasi membanggakan negeri.  

Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila. Olahraga sendiri terbagi atas olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. (http://fik.unj.ac.id/?p=887)


Pada tingkatan madrasah ibtidaiyah, olahraga menjadi bagian mata pelajaran yang diajarkan dari kelas 1 sampai 6. Sebagai mata pelajaran yang mengeksplorasi sisi psikomotorik siswa, olahraga juga diharapkan menjadi stimulus bagi siswa untuk mengetahui sekaligus mengembangkan bakat minatnya. Tak hanya itu, prestasi seorang siswa madrasah ibtidaiyah di bidang olahraga juga tentunya turut mengangkat nama baik madrasah yang bersangkutan terlepas dari dimana atlet tersebut berlatih secara keras, namun ketika ia berlaga sebagai seorang siswa madrasah ibtidaiyah tentunya sudah barang tentu ia menjadi bagian penting dari madrasahnya.


Kita sudah mengetahui apa saja yang dapat dilakukan oleh pendidikan olahraga tanpa harus membuka banyak teori tentang olahraga itu sendiri. Sebagai seorang pendidik tentunya kita dapat menginterpretasikan apa itu olahraga sesuai dengan apa yang kita lihat. Pendidikan olahraga sendiri dapat membentuk sebuah karakter bagi siswa. Siswa yang gemar berolahraga tentunya memiliki karakter olahragawan yang memiliki daya juang dan spirit yang membara, bersikap sportif, terbuka atas segala kondisi dan tekanan. 

Pengertian karakter sendiri menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Sesorang yang berkarakter akan lebih menonjol di masyarakat dan lingkungannya. Ia dapat memiliki peran yang dominan dalam kehidupan di masyarakat. 

Melalui pendidikan olahraga, hendaknya guru dapat menanamkan karakter yang luhur dalam diri siswa mengingat kondisi siswa madrasah ibtidaiyah lebih mudah untuk 'digambar' dengan berbagai hal yang ia dapatkan melalui panca inderanya. Melalui pendidikan olahraga, karakter siswa dibentuk sedemikian rupa untuk memiliki sifat jujur, memiliki daya juang tinggi, sportif, penuh perhitungan dalam mengambil keputusan dan tentunya cerdas. Yang demikian tentunya bermuara kepada terciptanya Insan Kamil yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.

Madrasah Ibtidaiyah berperan penting dalam pembentukan karakter siswanya, sinergisme antara setiap mata pelajaran, warga madrasah dan orang tua (sebagai faktor utama pendidikan keluarga) menjadi modal berharga terbentuknya karakter yang akhlakul karimah. 

MIMSatu Slinga

Membangkitkan Gairah Menulis Anak

ilustrasi siswa membuat karya tulis
Menulis adalah sebuah kegiatan yang menjemukan bagi sebagian anak. Padahal menulis menjadi salah satu cara mengekspresikan diri dan menuangkan segala pikiran. Sebuah karya tulis tidak harus berupa karya resmi yang ilmiah dan formalistik. Apapun dapat menjadi sebuah karya tulis hanya saja kategorinya akan berbeda. Seniman tentunya akan membuat karya tulis yang bernilai seni tinggi walaupun akan terkesan membosankan bagi orang- orang yang tidak memiliki sense seni tulis. Dengan menulis, seseorang dapat mengingat momen yang ia lalui misalnya melalui diary, autobiografi dan otobiografi. Karya tulis yang diminati oleh para remaja biasanya berupa cerita pendek yang berbau petualangan atau romansa. Kisah dongeng fantasi nan imaginatif begitu digemari anak-anak. 

Untuk membangkitkan kegemeran menulis dikalangan siswa kita tidak dapat memaksakan mereka untuk secara produktif dapat menghasilkan karya tulis seperti yang kita inginkan. Terlalu ketat dalam kriteria karya tulis siswa justru dapat membuat siswa terbebani. Lebih baik biarkan mereka berkreasi sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka. dengan begitu, apapun dan bagaimanapun hasilnya akan ada rasa puas dan bangga dalam diri mereka. Berikut ini tips yang telah dirangkum oleh redaksi MIMSatu Slinga dalam rangka membangkitkan gairah menulis dikalangan siswa Madrasah Ibtidaiyah:

  1. sebagai awalan, biarkan mereka memilih tema yang mereka sukai.
  2. biarkan mereka menulis sebanyak apapun yang mereka ingin tulis.
  3. anda dapat memberikan potongan kata- kata pilihan anda kepada mereka untuk kemudian disusun sesuai dengan keinginan mereka.
  4. jika mereka kesulitan menentukan tema, anda dapat memberikan tema yang mudah dipahami misalnya tentang kegiatan sehari - hari, tema tentang Ibu/ ayah (keluarga), pemandangan alam dan lain-lain.
  5. biarkan mereka mencari tempat yang mereka anggap nyaman untuk mulai menulis.
  6. berikan arahan dan bantuan jika mereka mendapat kesulitan. Arahkan kepada bahasa- bahasa yang mereka pahami tetapi tetap dalam koridor bahasa yang santun.
  7. biarkan mereka menonjolkan sisi kekanak- kanakan mereka dalam karya tulisnya. Jangan memaksakan membuat karya yang tidak bercirikan anak-anak.
  8. ajaklah mereka menghias karya mereka dengan pernak- pernik atau gambar yang mereka gambar sendiri sesuai dengan tema mereka masing- masing.
  9. berilah batasan waktu kepada mereka dalam berkarya agar mereka terbiasa membuat karya dalam batasan waktu (deadline).
  10. berilah apresiasi setinggi- tingginya kepada hasil karya mereka. Apresiasi terbaik dapat membangkitkan rasa puas dan bangga kepada mereka dan membangkitkan gairah mereka untuk kembali menulis.
Demikianlah tips yang telah dirangkum oleh redaksi MIMSatu Slinga. Membangkitkan gairah menulis dikalangan siswa dapat menumbuhkan kreatifitas mereka dalam berkarya. Semoga sukses membangkitkan gairah menulis siswa- siswi anda.  

MIMSatu Slinga
Back To Top